Diberdayakan oleh Blogger.

Berkurban untuk Kebajikan dan Keteladanan

Berkurban untuk Kebajikan dan Keteladanan 
Oleh Faozan Amar, S.Ag, M.M.

Allahu Akbar, Allahu Akbar, 
Allahu Akbar, La ilaha Illa Allah,
Allahu Akbar, Wa Lillahi ‘lHamd
Kaum muslimin dan
muslimat yang dirahmati dan
dimuliakan Allah.
Di pagi ini, di tempat yang
mulia ini, ratusan kaum
muslimin menunaikan salat Idul
Adha 10 Dzulhijah 1429
Hijriyah. Di tempat ini dan di
tempat-tempat lain di belahan
bumi pada 10 Dzulhijah setiap
tahun umat Islam dalam ratusan juta mengumandangkan takbir, tahlil, dan
tahmid ke angkasa lepas sebagai rasa syukur kepada Allah, dan pengakuan selaku
hamba terhadap ke-Esa-an Allah serta pernyataan untuk selalu taat kepada-Nya.
Bersama itu pula, hari ini di kota suci Mekah Al Mukaromah, umat Islam dari
berbagai bangsa dan negara mengadakan pertemuan akbar, dalam rangka
menunaikan ibadah haji, memenuhi panggilan Allah.
Rasulullah saw. bersabda yang artinya: “Barang siapa hendak mengerjakan
haji, maka bersegeralah, karena dia mungkin akan sakit, hilang kesempatan, dan
kebutuhan lain.” (HR. Ahmad, Hakim, dan Abu Dawud dari Ibnu Abbas).
Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, La ilaha Illa Allah, Allahu Akbar,
Wa Lillahi ‘l-Hamd.
Kaum  muslimin dan muslimat yang dirahmati dan dimuliakan Allah.
Sebuah peristiwa agung yang perlu kita teladani pada momentum Idul Adha
ini adalah perjuangan Nabi Ibrahim a.s., yang dengan pengorbanannya telah
berhasil mewujudkan momentum ibadah haji dan syariat penyembelihan hewan
kurban bagi orang-orang mukmin sampai sekarang. Di hari yang bersejarah ini,
kita diingatkan kembali kepada perjuangan dan pengorbanan Nabi Ibrahim a.s.,
dan juga nabi-nabi yang lain, dalam menghadapi setiap tantangan dan cobaan,
baik yang datang dari dalam diri maupun masyarakat sekitarnya. Pelajaran yang
dapat kita petik adalah semakin kuat iman seseorang semakin besar pula cobaan

troke-width: 0px; "> dan ujian yang dihadapinya. Ibarat sebuah pohon yang semakin tinggi, maka
semakin besar pula angin menerpanya.
Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, La ilaha Illa Allah, Allahu Akbar,
Wa Lillahi ‘l-Hamd
Kaum muslimin dan muslimat yang dirahmati dan dimuliakan Allah.
Ketika detik-detik pengorbanan yang dramatis itu akan berlangsung, terjadilah
dialog antara Ibrahim dan putranya Ismail, yang sangat menggugah hati dan
perasaan, sebagai contoh kuatnya iman dan takwa mereka kepada Allah swt.
Ibrahim berkata: “Wahai anakku, sungguh aku melihat dalam mimpi bahwa
aku menyembelihmu, maka pikirkanlah apa pendapatmu!” Ismail menjawab:
“Wahai ayahku, apa yang diperintahkan kepadamu, Insya Allah ayah akan
mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.” (QS As Shafat 102).
Begitu mengharukan proses pengorbanan itu, terlebih lagi ketika Ismail
dengan penuh tawakal memohon kepada Ayahnya, “Wahai ayah! Ikatlah kaki
dan tangan saya kuat-kuat, agar gelepar tubuh saya tidak membuat ayah bimbang.
Telungkupkan tubuh saya sehigga muka menghadap ke tanah, supaya ayah tidak
melihat wajah saya. Ayah! Jagalah darahku jangan sampai memerciki pakaian
ayah karena bisa menyebabkan perasaan iba, sehingga akan mengurangi pahala.
Dan asahlah pisau itu tajam-tajam, agar penyembelihan berjalan lancar. Wahai
ayah! Baju saya yang berlumur darah nanti, bawalah pulang dan serahkan pada
ibu, dan sampaikan salamku kepadanya, semoga beliau sabar menerima ujian
ini.”
Maka tatkala keduanya telah berserah diri, dan Ibrahim telah merebahkan
Ismail, meletakkan pipinya di atas tanah. Lalu kami panggillah ia. “Wahai Ibrahim,
telah engkau turuti perintah itu!” Demikianlah, Kami akan membalas orangorang yang berbuat baik. Ketahuilah, bahwa perintah ini hanyalah ujian yang
nyata.” (QS. As Shafat 103-106).

Akhirnya Nabi Ibrahim a.s. dilarang menyembelih putranya, setelah
dinyatakan Allah lulus menjalani ujian. Sebagai gantinya, Allah swt.
memerintahkan Ibrahim untuk menyembelih binatang kurban. Dan sejak itu
maka sebagai tanda bersyukur beliau pada waktu tertentu secara kontinu
menyembelih hewan untuk ibadah kurban.
Kaum muslimin dan muslimat yang dirahmati dan dimuliakan Allah.
Pada hari Idul Adha yang bersejarah ini, kita  dihadapkan pada sebuah cermin
kehidupan tentang makna perjuangan yang telah dicontohkan oleh Nabi Ibrahim
a.s. Sebagai umat Nabi Muhammad saw. yang merupakan penerus perjuangan
Nabi Ibrahim a.s., mari kita tegakkan amar maruf nahi munkar. Kepada sesama
Muslim, kita diwajibkan untuk saling mengingatkan. Jika ternyata berbagai
bentuk kebatilan dan kemunkaran masih terus merajalela di negeri ini, kiranya
kita perlu bercermin diri. Apakah greget perjuangan, dan pengorbanan untuk
dakwah kita selama ini sudah maksimal, atau justru masih ogah-ogahan dan masih
suka tawar menawar?

Cobalah kita perhatikan dengan kejernihan hati dan kecerdasan akal pikiran,
betapa pengaruh gaya hidup materialistis dan sekuler telah mengakibatkan
fenomena-fenomena kehidupan di semua lapisan masyarakat kita menjadi sangat
mengkhawatirkan. Hal ini dapat kita lihat dari gejala-gejala yang ada dan praktikpraktik kehidupan masyarakat kita, yang lebih cenderung meniru gaya hidup
Barat.
Akhirnya, untuk mengakhiri khotbah ini, marilah kita menyampaikan
harapan berupa doa kepada Allah yang Maha Pengampun, Maha Penyayang
dalam suasana Idul Adha yang berbahagia ini.
Alhamdulillahirabbil’alamin. Wal-aqibatu lilmuttaqin. Rabbanazalamna
‘anfusana wa inllamtagfirlana watarhamna lanakuna nanminal khasirin. Rabbana
atina fiddunya hasanataw wa fil-akhirati hasanataw wa qina azabannar.
Walhamdulillahirabbil-‘alamin.


Source : http://generasi-intelektual.blogspot.com 
0 Komentar untuk "Berkurban untuk Kebajikan dan Keteladanan "

Back To Top